Saya sering sekali dibuat sakit hati, sakit kepala, dan sakit perut saat melihat berbagai fenomena di masyarakat. Bagaimana sebuah ucapan yang sifatnya kiasan, ditanggapi dengan respon yang sifatnya denotatif.
Aha, sebagai pengantar, marilah kita membaca teks “Kecap nomor Tiga” karangan pak Tri Budhi Sastrio di sini: http://www.freelists.org/post/nasion…p-Nomor-Tiga,1 . Bahasanya njelimet, dan sepertinya kita bisa melupakan sebagian besar isinya yang tidak bisa 100% dimengerti anak SMA seperti saya. Tapi, ada dua inti yang bisa ditangkap dari artikel itu.
Yang pertama, adalah mengenai kebebasan berpendapat. Kebebasan berpendapat yang sering disingkat “Demokrasi” adalah bagian yang normal, dan bahkan katanya adalah rahmat bagi seluruh manusia. Tapi, mengapa banyak orang yang menabrak aturan dengan alasan “ini kan demokrasi”? Kalau contoh konkritnya, ketika dibatasi “maaf, jangan berbagi gambar porn/disturbing” maka mereka akan memakai pembenaran “lah ini kebebasan berbicara”. Dengan cerdas, di artikel tersebut, orang semacam ini digambarkan sebagai orang yang “antidemokrasi”, karena tindakannya mengemplang aturan toh malah membinasakan arti demokrasi itu, sebab dia hanya mementingkan diri sendiri (egois) dan tidak sudi mendengar apa kemauan orang.
Jadi, demokrasi itu salah? Iie, chigau! Tidak demokrasi itu tindakan bodoh. Sehingga, kalau ada ungkapan “bahwa democracy gives everyman the right to be his own oppressor”, hal yang sama bisa berlaku untuk sebuah sistem antidemokrasi. Kalau saya menulis kritik mengenai sistem Jigoku Point kemudian saya malah mendapatkan hukuman, lalu apa yang salah di sini?
Ternyata, demokrasi itu tidak sekedar bebas cuap-cuap. Ada elemen penting lainnya, yakni bagaimana kita bisa menghargai perasaan orang lain, dan bagaimana kita bersikap objektif. Saya secara pribadi percaya, bahwa perasaan adalah pembunuh nomor satu sifat bijak dan adil manusia. Tapi ia tidak membuat kita boleh mengkritik “eh janc*k, ngapain lu ganjel pintu di KRL Eko AC”. Ucapan yang baik pun perlu diperhatikan.
Jadi, ketiga hal ini menjadi bagian yang fundamental (mendasar) dan krusial (penting), dan tidak terpisahkan dari alam demokrasi. Melakukan pelanggaran salah satu saja, yah secara langsung ia tidak lagi layak dikatakan “demokrasi”. Tapi antidemokrasi, toh?
Lalu yang kedua, mengenai menanggapi ucapan secara denotatif. Saya masih ingat, saat saya menegur seseorang “cobalah kau benari bagian EQ dari IQ,EQ, dan SQ yang kau punya, sehingga kau bisa memperhatikan perasaan orang lain saat menegur orang”. Kalau itu dibalik dengan “maaf, saya sekarang lemah di matematika, bukan di EQ saya, kak!”. Haah?
Ketika saya berkata “Betapa indahnya stasiun Bojonggede yang seperti kandang ayam”, kemudian sang KS pun marah. Stasiun ini dicat, yang menempati bukan ayam. Yang naik di sini manusia. Sehingga kritik yang dikemas secara konotatif (tidak langsung) pun ditanggapi secara denotatif (seakan-akan memang seperti itu). Atau bahasanya, ketika pernyataan metaforis (perumpamaan) ditanggapi secara figuratif (sebenarnya). Tidak nyambung, bos!
Saya menyindir dengan kiasan. Tapi ditanggapi dengan subjektif. Ya konyol!
Jadi, saya kira selain membenahi “arti demokrasi” dan “menanggapi dengan baik”, sebaiknya satu hal harus kita tanamkan. Awalnya, semua kecap itu tidak ada yang nomor satu. Tapi, kalau setelah pengujian kuantitatif dan kualitatif diperoleh kecap yang nilainya paling tinggi, maka terimalah itu. Adil, bukan?
Karena kita tidak dikatakan benar sebab kita yang menganggap demikian, tapi karena apa yang kita ungkapkan itu sesuai dengan kenyataan. Kalau semua pihak tidak ada yang mau menang sendiri alias mengklaim menjadi nomor satu, maka biar hal itu dibuktikan secara objektif.
Indah sekali, kalau nasihat yang baik itu ditanggapi dengan baik oleh orang tersebut. Indah sekali andai perubahan ke arah yang lebih baik itu didukung orang lain, bukannya dicaci maki dan dihujat. Bukankah tugas manusia itu adalah menjadi pemimpin di bumi ini?
Saya yakin, kalau semua orang Indonesia bisa memegang poin penting ini, insya Allah semua akan berjalan lancar, tanpa hambatan yang diperlukan. Ayo berubah!


Ini rada tricky</em. Pada hakikatnya, memakai perumpamaan itu kan tidak mungkin bisa pas. Isinya bisa sangat ambigu. Misalkan perumpamaan "kandang ayam" yang tadi itu. Saya (yang belum tahu seperti apa stasiun tersebut) boleh jadi tidak bisa memahami apa yang dimaksudkan dengan "kandang ayam" itu. Apakah yang dimaksudkan "kandang ayam" itu "tempat yang sangat kotor", "penumpang yang berjejal tanpa adab", atau yang lainnya? Pada situasi ini, dibutuhkan kemampuan dari yang membuat perumpamaan untuk merumuskan perumpamaan yang benar-benar akurat. Sehingga menurut saya, sumber masalahnya sebenarnya ada dua: 1) Ketidakmampuan komunikan dalam memahami perumpamaan, dan 2) Perumpamaan yang lemah (weak analogy). Sedikit kesalahan dalam beranalogi bisa berakibat fatal, karena akan menyebabkan berubahnya persepsi komunikan terhadap makna yang ingin disampaikan.
Maaf kalau mbulet, sebelumnya.
Oleh: syllachtea on 2010/04/22
at 19:32
kalau dalam kasus ini, bercermin dalam masalah “Sekolah kandang ayam” dan pak JK dulu, saya lebih condong kepada faktor komunikan. Entah komunikan yang tidak terima dengan perumpamaannya (karena dianggap menghina), tidak melihat secara langsung (kalo pak KS sidak pasti stasiun bersih), atau memang tidak paham (bisa jadi karena stasiun Bojonggede itu bersih, indah, dan tidak seperti apa yang dimaksudkan itu).
Oleh: Kevin Wilyan on 2010/04/22
at 20:44
Hmm, kalau pendekatannya per kasus mungkin bisa benar juga. Saya cuma mau menambahi saja bahwa kesalahan memahami analogi itu tidak bisa diatributkan pada komunikan per se pada semua kasus.
Dalam tulisan aslinya (yang anda tautkan) saya merasa agak janggal dengan contoh yang diutarakan di sana. Tapi sudahlah, toh itu bukan bahasan yang dibicarakan di sini.
Oleh: syllachtea on 2010/04/22
at 21:15
karena di sini saya tidak membahas mengenai “bagaimana menggunakan perumpamaan dengan baik”, tetapi ketika sebuah pendapat yang sifatnya metaforis, ditanggapi seakan-akan ia benar-benar terjadi (alias kesalahan memahami konteks).
Suka tidak suka, sangat banyak di masyarakat kita yang entah sengaja, atau tidak mampu memahami konteks sebuah pembicaraan.
Oleh: Kevin Wilyan on 2010/04/22
at 22:53
Ya ampun. Bisa tolong diperbaiki, tidak? m(_ _)m
Oleh: syllachtea on 2010/04/22
at 19:34
apanya? :p
Oleh: Kevin Wilyan on 2010/04/22
at 20:42
Tag HTML-nya. – -a
Oleh: syllachtea on 2010/04/22
at 21:04
terlanjur
Oleh: Kevin Wilyan on 2010/04/22
at 22:54
ikut Lomba Blog Depok? jangan lupa tambahkan tag/label “LombablogDepok 17 Juli – 17 september 2010″ ya..
Oleh: Piecha on 2010/08/23
at 13:19
ikut Lomba Blog Depok? jangan lupa tambahkan tag/label “LombablogDepok 17 Juli – 17 september 2010″ pada tiap artikel yang dilombakan ya..
Oleh: Piecha on 2010/08/23
at 13:19
sudah dipasang
Oleh: Kevin Wilyan on 2010/08/25
at 13:13