Oleh: shinmuhammad | 2009/06/05

Berpikir Ilmiah: Tidak Melulu Empiris!

kyon_facepalmSaya sudah berniat ingin menulis hal ini sejak lama. Cuman, baru mendapat materi yang enak dibahas, setelah membaca sebuah pesan Facebook yang cukup menarik untuk saya bahas. Ia menggugat, agama dan pemikiran ilmiah.

Berikut adalah kutipan lengkap artikelnya (Dari diari Facebook milik Antariksa Ahmadi-san. Saya salut padanya, bisa berpikir kritis.)

Sudah menjadi tradisi sejak abad pertengahan bahwa doktrin religius selalu dihadapkan dengan sains. Pada saat-saat tertentu sains sering digunakan sebagai bahan bakar apologi doktrin-doktrin religius. Sebagai contohnya adalah apologi-apologi yang digembar-gemborkan dokter Maurice Buccaile. Beliau berpendapat bahwa temuan-temuan ilmiah sains sejalan dengan isi Al-Qur’an, sehingga menambah bukti kebenaran ajaran Islam. Sejumlah pemuka agama konservatif juga mulai menggunakan sains sebagai penguat doktrin agama, lem perekat untuk menempelkan umat pada nilai-nilai religius. Ini terlihat dari kecenderungan kaum religius untuk menunjukkan kecocokan antara dalil-dalil skriptur dan aturan-aturan jurisprudensi agama dengan sains. Semua ini disambut dengan baik dan dipuji oleh kalangan umat beragama, baik konservatif maupun moderat.

Di lain pihak, usaha semacam ini ditanggapi dengan sinis oleh para saintis sendiri. Pasalnya, saintis menganggap para pemuka agama tidak serius dalam mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dengan sains. Para saintis mengecam, yang pertama, tindakan para pemuka agama yang menolak keyakinan ilmiah tertentu hanya dengan bermodalkan dalil-dalil skriptur. Penolakan seperti ini nyata-nyata mengabaikan metodologi ilmiah yang seharusnya digunakan dalam sains. Menolak keyakinan saintifik menggunakan dalil-dalil skriptural adalah ngawur karena sains bernaung di bawah empirisisme dan logika sedangkan doktrin religius di bawah metafisika, yang mana jangkauan epistemologis keduanya berbeda jauh. Yang kedua adalah seringnya terjadi pembentukan apologi-apologi religius dengan menggunakan produk sains abal-abal. Yang dimaksud dengan sains abal-abal disini adalah keyakinan sains yang sebenarnya tidak ilmiah, bahkan seringkali hanya berita bohong (hoax). Kaum religius sering hanya menyebar postulat akan kesatuan ajaran agama dengan sains, tanpa terlebih dahulu mengecek kebenarannya. Contohnya adalah berita bohong bahwa Neil Amstrong pernah mendengar suara adzan di bulan dan kemudian masuk Islam, yang langsung ditanggapi secara bombastis oleh para pemuka agama Islam. Neil Amstrong sendiri bahkan sudah membantah kabar tersebut. Contoh yang lainnya adalah penolakan besar-besaran para agamawan terhadap teori evolusi. Dengan alasan bahwa manusia berasal dari monyet atau ajaran teori evolusi yang menolak keberadaan Sang Pencipta, para agamawan beramai-ramai mengharamkan teori evolusi. Padahal, semua tuduhan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Keberadaan saintis palsu semacam Harun Yahya juga memperkeruh suasana, karena hanya menghembuskan tuduhan-tuduhan tak berdasar dan argumen-argumen sesat. Selain itu banyak sekali pernyataan-pernyataan para saintis yang dipelintir untuk mengesankan bahwa mereka menolak teori evolusi. Beberapa saintis juga didiskreditkan umat beragama hanya karena mereka atheis, padahal bukan kepercayaanlah yang menjadi ukuran kebenaran dalam sains.

Dalam sains, hal yang terpenting adalah adanya bukti empiris. Tanpa adanya bukti empiris, maka suatu tesis tidak akan diakui sebagai fakta ilmiah. Untuk lebih jelas, kita harus mengetahui urutan metodologi ilmiah dahulu, yakni sebagai berikut:

1. Pengamatan di alam
2. Perumusan masalah
3. Pengajuan hipotesis
4. Eksperimen atau pengumpulan bukti
5. Penarikan kesimpulan yang akan menghasilkan teori baru

Jadi teori ilmiah tidak dibuat berdasarkan perkiraan saja, namun juga didukung oleh serangkaian pembuktian. Begitu pula untuk penolakan suatu teori ilmiah, tidak bisa dengan hanya ditolak begitu saja. Harus ada teori baru yang bisa menggantikannya. Pembentukan teori ini pun tidak bisa sembarangan, harus melalui metodologi ilmiah juga.

Dengan keberatan para saintis seperti ini, haruskah upaya berapologi dengan sains ini dihentikan? Yang pasti, agama tidak boleh mengintervensi urusan sains semaunya. Jika ada sebuah keyakinan sains yang perlu perbaikan, maka harus diperbaiki dengan cara yang ilmiah. Umat juga harus pandai menyaring dan mengecek kebenaran suatu kabar, tidak hanya percaya begitu saja. Kalau tidak, maka suatu hari nanti agama akan dipermalukan oleh sains.

Sekarang, waktunya saya menjelaskan beberapa hal, yang bisa anda masukkan sebagai “Berpikir Ilmiah”.

Yang pertama, harus diketahui pengertian berpikir itu sendiri. Berpikir menurut Salam (1997:139) adalah suatu aktivitas untuk menemukan pengetahuan yang benar atau kebenaran. Berpikir dapat juga diartikan sebagai proses yang dilakukan untuk menentukan langkah yang akan ditempuh. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah.

Pada dasarnya, konsep berpikir manusia dibagi menjadi tiga pola.

Pola pertama, yakni berpikir tahayul. Anda ingat larung sesajen di pantai-pantai untuk mengusir roh jahat? Atau menaruh sesembahan di sawah, agar mendapat kesuburan dari Dewi Sri? Pemikiran ini jatuh pada kategori berpikir tahayul.

Pola kedua, yakni berpikir sederhana. Ketika seseorang melihat pelangi, kemudian ia bertanya asal pelangi itu. Maka ia mendapat jawaban, sudah dari sananya. Atau, logika ala Detektif Conan, dengan Kogoro Mouri yang blak-blakan karena melihat sidik jari seseorang di tempat terbunuhnya orang, langsung menunjuk dia adalah pelakunya. Pemikiran sederhana tidak didasari metodologi berpikir yang baik, sehingga hasilnya malah membahayakan.

Pola ketiga, yakni berpikir ilmiah. Anda pasti tahu, seperti apa metode ilmiah itu. Ah, sudah disebutkan dalam kutipan di atas.

1. Pengamatan di alam
2. Perumusan masalah
3. Pengajuan hipotesis
4. Eksperimen atau pengumpulan bukti
5. Penarikan kesimpulan yang akan menghasilkan teori baru

Tapi, Tunggu dulu! Esensi dari metode ilmiah yang sering diajarkan di sekolah-sekolah adalah metode berpikir secara empiris. Sadarkah anda, bahwa dalam berpikir ilmiah pun, masih dibagi lagi ke dalam dua bagian, yakni empiris dan logika?

Pemikiran sains yang dikupas dala kutipan catatan di atas, baru mengkaji cara berpikir ilmiah melalui salah satu sudut pandang. Berpikir empiris, atau mudahnya, seeing is believing. Tahukah anda, betapa berbahayanya ketika konsep berpikir inilah yang dianut oleh sebagian besar orang di dunia?

Dalam hal melakukan pengkajian ilmiah, ada beberapa studi ilmu pengetahuan yang tidak dapat dikaji secara empiris. Namun, kajian ini sah dan objektif, sehingga menjadi ilmiah. Keilmiahannya terbukti, melalui konsep berpikir logis. Seperti, matematika dan filsafat.

Adalah konyol ketika melakukan kajian terhadap bidang studi seperti ini, menggunakan pendekatan secara empiris. Bagaimana contohnya?

Mari kita kembali ke kutipan artikel ini. Agama.

Kita ambil saja sesuatu yang sepele, tetapi menarik dan kita coba selesaikan dengan metodologi ilmiah. Saya akan memakai metodologi empiris dan logika.

Hukum Lavoisier, massa sebelum reaksi dan sesudah reaksi adalah sama. Ini adalah teori yang acapkali dipakai untuk membantah keberadaan Tuhan oleh kaum materialis. Mereka berpikir, energi adalah kekal.

Dengan pendekatan logis, mungkinkah ada benda yang kekal, ketika sunnatullah mengatakan semua memiliki awal dan akhir? Agama dan sains terapan terlihat bertentangan di sini.

Konsep ini lah yang mendorong teori steady state, di mana alam semesta itu dari dulu dan sampai sekarang selalu ada dan akan tetap keadaannya. Namun, teori steady state (yang secara sengaja atau tidak juga membantah teori kekekalan energi), dibantah oleh teori Big Bang.

Teori Big Bang menjelaskan penciptaan alam semesta, berasal dari ketiadaan. Nol. Ternyata, setelah melalui sejumlah penelitian fisika dan astronomi, ditemukan jejak sinar merah, yang terus menjauhi pusat alam semesta. Alam semesta ini terus mengembang. Lebih uniknya lagi, ketika matematika berbicara. Untuk menghasilkan sebuah ledakan, maka massa suatu benda haruslah dipadatkan sepadat-padatnya untuk meraih ledakan dengan energi paling besar. Sehingga, konstanta matematika akan menyebutkan, massa benda yang dimampatkan itu sebisa mungkin, harus mendekati nol. Atau, sama dengan nol.

Terdengar logis? Mungkin tidak. Tetapi, matematika dapat dibuktikan, tanpa melalui pendekatan empiris.

Sehingga, ketika ada orang yang mengatakan alam semesta ialah kekal, maka sesungguhnya ia belum mempelajari teori yang lebih besar mengenai penciptaan.

Tulisan ini, sekaligus menyanggah pendapat bahwa teori ilmiah harus melalui sejumlah pembuktian secara empiris. Karena, banyak teori ilmiah, yang kebenarannya tidak perlu dibuktikan secara empiris, (dan tidak mungkin untuk melakukannya,karena melakukannya hanya akan membuatnya menjadi non-sense.)

Saya akan melanjutkan, mudah-mudahan dengan ini, saya akan coba membuktikan bahwa agama itu mampu dan terbukti secara ilmiah. Bukan dikait-kaitkan secara ilmiah.

Shin Muhammad

 

 


Responses

  1. One Word : kepanjangan….

    baca pelan2 dulu, berat bahasanya….

  2. @Kevin Wilyan

    Tapi, Tunggu dulu! Esensi dari metode ilmiah yang sering diajarkan di sekolah-sekolah adalah metode berpikir secara empiris. Sadarkah anda, bahwa dalam berpikir ilmiah pun, masih dibagi lagi ke dalam dua bagian, yakni empiris dan logika?

    Coba lihat ini:

    In the philosophy of science, empiricism emphasizes those aspects of scientific knowledge that are closely related to evidence, especially as discovered in experiments. It is a fundamental part of the scientific method that all hypotheses and theories must be tested against observations of the natural world, rather than resting solely on a priori reasoning, intuition, or revelation. Hence, science is considered to be methodologically empirical in nature.

    Logika memang berperan dalam sains sebagai sarana inferensi, tapi yang terpenting dalam sains adalah empirisismenya. Atau saudara punya penjelasan lain?

  3. saya balik bertanya, bagaimana anda membuktikan logika dalam matematika? keilmiahan matematika tidak dapat dibuktikan secara empiris, bukan?

    Atau keilmiahan filsafat?

    Dalam sains tidak selalu harus empiris agar dapat dikatakan ilmiah.

  4. Lah, memangnya filsafat dan logika termasuk dalam sains? Matematika sendiri sebenarnya empiris juga ‘kan? Tambah lagi, empirisme itu bukan sekedar melihat, tapi mengalami.

    Kalau salah mohon diperbaiki.

    • Kalau begitu, mengapa anda menggunakan pendekatan seperti itu dalam memandang agama?

      Dan menurut saya, kalau anda hanya mau menggunakan pendekatan empiris saja, maka sangat mungkin semua teori fisika relatif (seperti mekanika kuantum) akan dianggap tidak ilmiah karena tidak dapat dibuktikan secara empiris.

  5. ‘Pandangan seperti itu’ maksudnya bagaimana, ya?

  6. boleh saya kometar …?
    jika ingin memberikan penjabaran tidak perlu terbelit-belit ..karena tidak semua orang mampu menelaah dengan kata atau tulisan yang berbelit-belit….
    kita boleh menulis dengan bahasa yang sulit atau agak berkelas, tapi ingat tidak semua orang dapat mempunyai pembendaharaan kata….buat bahasa/posting yang bahasanya baik, berkelas sedikit boleh asal ringan supaya mudah dimengerti….
    ok…

    • @Ahmadi-kun:

      Anda jangan hanya menggunakan pendekatan empiris dalam meneliti berbagai hal… karena sains tidak hanya dikaji secara empiris… cara berpikir ini yang berbahaya jika tidak diluruskan.

      @lili-san:

      Saya menulis sesuai dengan bahan yang ditulis. Kalau memang dirasa berat, memang demikianlah. Karena yang dibahas pun juga berat, bukan sesuatu yang ringan atau mampu dipahami orang banyak.

  7. untuk saudara Kevin……
    tolong kunjungi postingan terbaru saya di….

    http://menuju-moderen.blogspot.com/2009/06/cara-untuk-isi-postingan-yang-menarik.html

    disana saya memberikan saran yang berguna untuk Anda dan teman-teman Anda yang ngeblog…
    thanks…..

  8. @Kevin Wilyan

    Err, apakah iya saya menggunakan cara pandang yang seutuhnya empiris? Apakah tulisan saya mengesankan bahwa saya berpikir demikian? Yang saya tekankan adalah perlunya memisahkan sains dan keyakinan agama. Agama tidak usah mendikte sains, karena apa yang mereka kerjakan saja sudah berbeda. Jika ada pertentangan antara agama dan sains, ya agama tidak usah mengkafirkan sains. Mengapa? Karena kemungkinan salah bisa muncul dari kedua belah pihak. Mungkin ajaran agama salah ditafsirkan, atau karena cacat dalam sains itu sendiri.

    • Di artikel ini, saya mengklarifikasi bahaya ketika segala hal hanya menggunakan cara pandang empiris. Berpikir hanya dengan metode empiris berbahaya, sebab hasil pemikirannya mampu menafikan kebenaran agama.

      Serta, orang yang menganut pemikiran sains empiris, sering melanggar prinsipil yang ia pegang sendiri.

      Bagi saya, ketika seseorang mengaku hanya memandang segala hal sains hanya dengan metode empiris, dia sesungguhnya berbohong dan tidak konsisten terhadap pemikirannya itu.

      Soal apakah sains dan agama saling menafikan, atau saling mendukung, akan saya jelaskan dalam artikel berikutnya. Sekaligus, membantah cara berpikir Harun Yahya yang dituduh fallacy.

      Ingat, mengatakan segala sesuatu tidak benar, harus mampu menjelaskan ketidakbenarannya. Sementara saya tidak pernah menemukan satu alasan yang logis dan kuat untuk menjelaskan ketidaklogisan pemikiran Harun Yahya.

    • @orang jaman dulu nemuin berbagai penemuan dan mulai menciptakan itu berasal dari kitab suci
      jangan memisahkan kehidupan, fikiran dan kerohanian,,, semua harus berjalan selaras seimbang pada porsinya serta berdampingan

      • setuju dengan yg ini…

  9. @Kevin Wilyan

    Ah, baiklah kalau begitu. Akan saya tunggu. :)

  10. Adakah hubungan antara Sains dan agama ?

    Agama bertujuan agar pemeluknya bisa selamat hidup di dunia dan setelah dibangkitkan lagi kelak.

    Selamat hidup di dunia adalah tidak berbuat kerusakan yang merugikan diri dan lingkungan hidup sekitarnya.

    Sains bertujuan agar manusia sebagai mahluk yang dikaruniai akal dan perasaan oleh Tuhan bisa menjalani hidupnya di dunia dengan lebih baik.

    Dengan dasar filsafat di atas, maka dapat ditarik hubungan logis berikut :

    Premis mayor :
    JIKA manusia sebagai pemeluk agama mematuhi agama untuk tidak berbuat kerusakan yang merugikan diri dan lingkungan hidupnya, MAKA akan selamat hidupnya baik di dunia maupun setelah dibangkitkan kelak.

    Premis minor :
    JIKA manusia memanfaatkan sains yang bisa membuatnya menjalani hidup dengan lebih baik, MAKA ia akan selamat hidup di dunia dan setelah dibangkitkan kelak.

    Saat kedua Premis digabung, maka :
    Manusia akan selamat hidupnya di dunia dan akherat JIKA DAN HANYA JIKA manusia :

    Mematuhi larangan agama untuk berbuat kerusakan di muka bumi

    Memanfaatkan sain yang bisa membuat manusia dalam menjalankan hidupnya di dunia menjadi lebih baik.

    Jadi sains dapat membuat pemeluk agama bertambah yakin kebenaran agama yang dipeluknya dan sebaliknya agama dapat membuat pemeluknya dapat menuntun pemeluknya selamat hidup di dunia dan setelah dibangkitkan lagi kelak.

  11. menarik , menyimak apa yg diperbincangkan di atas.
    bukannya sy mw mendiskreditkan kaum2 pemikir empiris, namun kita tau bersama indrawi kita memiliki keterbatasan.ada hal2 yg tak mampu ditafsirkan dgn indra semata.seperti contoh, perasaan lapar, cinta , benci, rindu dsb.
    hal ini menunjukkan ada indra di luar indra dan ada non materi di balik materi.
    thanks


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: